Terapi Pengobatan Kuno yang Kembali Dikembangkan

Pengobatan tradisional  atau praktik medis kuno selama ini memang tak pernah benar-benar padam di dunia medis hingga saat ini. Buktinya saja, justru di era modern sekarang, semakin banyak para pakar yang mengembangkan metode penyembuhan tradisional.

Metode pengobatan kuno seperti ini ternyata semakin berkembang dengan adanya beragam riset yang dilakukan oleh para dokter, sehingga mereka pun saat juga merekomendasikan pengobatan yang serupa dibandingkan dengan hanya konsumsi obat-obatan kimia yang beredar di pasaran. Berikut inilah 5 terapi pengobatan kuno yang mulai kembali dikembangkan oleh para dokter, di antaranya :

Terapi Pengobatan Kuno yang Kembali Dikembangkan

terapi pengobatan kuno yang kembali dikembangkan
Terapi racun lebah

Terapi racun lebah ini dulu sering dipraktekan pada zaman Yunani Kuno untuk pengobatan arthritis. Kepercayaan tersebut kemudian diteliti oleh para ahli yang mengungkapkan bahwa racun lebah tersebut mengandung melittin, bahan kimia yang diyakini memiliki sifat anti-inflamasi. Yang berarti, ia mampu membantu mengatasi arthritis, menghilangkan rasa sakit, serta mencegah terjadi kecacatan. Akan tetapi, studi lainnya mengungkapkan, bahwa metode racun lebah ini jika digunakan secara berlebihan, akan memicu masalah reaksi pada kulit seperti kondisi alergi.

Terapi Belatung

Dalam beberapa penelitian, hewan yang menjijikan ini digunakan untuk mengobati luka diabetes atau borok kronis pada kaki, luka bakar akut, serta luka operasi. Cara pengobatannya yaitu dengan menerapkan belatung ke permukaan luka, kemudian menutupinya menggunakan kassa selama 2 hari.

Belatung tersebut mampu menyekresikan enzim pencernaan yang kemudian mampu melarutkan jaringan mati pada luka yang telah terinfeksi. Sehingga ia diyakini mampu menyingkirkan daging yang membusuk.

Terapi lintah

Lintah yang dikenal sebagai hewang pengisap darah ini, ternyata bisa memberikan peranan penting dalam medis untuk manusia. Hewan yang selalu membuat rambut tubuh berdiri ini mampu mengatasi masalah kongesti vena (pembuluh darah yang tidak bisa memompa ke jantung).

Tugas lintah dalam penyembuhan yaitu dengan mengekstrak volume darah dari luka operasi dalam waktu yang singkat. Air liur dari hewan ini memiliki kandungan zat antikoagulan yang merupakan media pencegah pembekuan darah. Akan tetapi, penggunaan lintah juga bisa memicu risiko seperti anemia karena pasien terlalu banyak kehilangan darah, atau infeksi kulit, karena bisa aja sewaktu-waktu hewan tersebut menggigit anda.

Terapi kejut listrik

Terapi kejut listril atau juga disebut ECT (electroconvulsive) ini digunakan untuk mereka yang mengalami depresi berat. Dulu, terapi ini diberi label berbahaya karena dianggap tak manusiawi dengan dosis yang tinggi tanpa anestesi. Namun saat ini, ECT telah berada di bawah anestesi umum dan akan diberikan 3x dalam seminggu selama 3-4 minggu. Terapi ECT ini bisa memberikan pengaruh pada unsur kimia otak dan sel-sel saraf yang nantinya akan memberikan perubahan baik pada suasana hati, nafsu makan, juga kualitas tidur.

Artikel lainnya :

Terapi buang darah

Bloodletting atau terapi buang darah ini dilakukan untuk mereka yang mengalami kondisi hemochromatosis. Suatu keadaan dimana zat besi dalam darah terlalu tinggi sehingga justru bisa meracuni berbagai organ.

Para ahli akan memakai jarum untuk mengeluarkan darah sekitar 1 liter dari tubuh, 1-2 kali seminggu selama 1 bulan, sampai tingkat feritin (sat besi) nya menurun, dan terbilang dalam kategori sehat. Namun ternyata, terapi bisa memberikan efek samping seperti lelah dan anemia karena kemungkinan terlalu banyak darah yang diambil saat itu.

Terapi atau pengobatan kuno ini saat ini mulai kembali dipraktekan dengan metode yang lebih berkembang dan aman dilakukan. Sehingga anda tidak perlu cemas atau khawatir tentang reaksi maupun efek samping yang kemungkinan bisa terjadi.

Facebook Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *